Minggu, September 21, 2014

Berubah


Aku masih berumur 23 tahun. Tetapi ternyata perubahan besar terjadi di sekelilingku dalam periode waktu yang singkat. Kalau dikategorikan dari tahun lahir, aku ini anak 90an. Anak-anak yang dulu merasa pakai celana monyet itu keren! Anak-anak yang dulu semangat banget dateng ke konser susan dan kak ria enes (eh, apa aku tok ya yang gitu?).. eh! tapi serius aku dulu belain desek-desekan biar dapet tanda tangannya susan (padahal kalau dipikir-pikir ya itu pasti tanda-tangannya kak ria -_-). Anak-anak yang dulu sempet nangis waktu sherina nolongin sadam di boscha. Anak-anak yang dulu main petak umpet aja dari sore sampek malem. Anak-anak yang hobi niruin tarian Amigos dan marah-marah kalau anna dikerjain neville. Waktu dulu hidupku saat itu sekolah-main-nonton amigos-bolos les buat nonton amigos. Waktu SMP kelas 1 dan 2 nggak jauh beda, hidupku nggak jauh-jauh dari sekolah-ikut ekstra kulikuler melukis-main the sims bareng anak-anak dirumah icha-main ayunan sebelah rumah icha-ngobrol di mesjid deket rumah icha-les bahasa inggris. Sampai suatu saat di kehidupan akhir SMP dan waktu SMA, mengenal friendster dan kemudian facebook, mxit, mig33 lah. Ada hal yang baru muncul di sekelilingku tapi tidak begitu besar. Kami sekelas hobi foto-foto.... ya pakai sapulah, ya foto di kaca deket ruang kepala sekolah lah, ya di lapangan basketlah kemudian uploud di facebook. Karena itu hal yang baru, kegiatan itu menjadi kegiatan yang seru bagi kami. Bahkan facebook, benar-benar menambah jejaring pertemanan bagiku. Tidak hanya berteman di dalam dunia maya, aku membuka kesempatan untuk benar-benar berteman di dunia nyata. Akupun masih berteman dekat dengan mereka sampai sekarang. Bahkan beberapa adalah teman baik. Saat kuliah, banyak istilah-istilah asing yang muncul. Twitter - plurk - GooglePlus- Instagram - Line - KakaoTalk - Whatsaap - Path - dan aku nggak update-update banget. Sosial network yang awalnya fungsinya untuk menambah jejaring sosial sekarang menjadi multifungsi. Berkembangnya sosial network pun diirngi dengan trend smart phone. Yang dulu kita foto lalu baru akan di uploud keesokan harinya, sekarang semua menjadi serba hitungan detik. Bagiku, ini merupakan perubahan yang besar di sekelilingku. Datang ke suatu tempat ber5 - pegang hape mau check in - pesen makan - ngobrol - makanan datang - semua foto makanan uploud - makan - ngecek hape - ngobrol - foto bareng-bareng di tempat makan- uploud - pulang. Kalau kataku ini era everybody should know. Semua harus tahu aku itu ada. Aku punya teman baik A, B, C,D. Kami bahagia. Aku punya pacar. Kita mesra. Padahal nggak tahu aslinya gimana. Aku tidak pernah menyalahkan bahwa itu salah. Tren itu muncul karena kebanyakan orang mengikuti, kita punya hak mau mengikuti atau tidak. Pun kalau mengikuti, ya itu hak. Tapi sayang banget hidup penuh dengan kamuflase. Ya itu cuma kataku sih. Untuk apa uploud foto bersama dengan caption I'm happy. Love you - kemudian di tempat tidur sedih merasa sendiri bahkan tidak merasa kehangatan hubungan. Tidakkah yang lebih menyenangkan menghabiskan waktu mengobrol sampai ngakak ngakak  trus nangis dengan orang-orang terdekat? Meninggalkan sementara gadget untuk ikut menonton acara bersama keluarga. Makan bersama tanpa harus merusak momen-momen tersebut. Tidakkah kita rindu bermain bersama seperti tahun 90an tertawa, dan gembira tanpa perasaan semua orang harus tahu bahwa kita bahagia. Ya penting kita merasa bahagia. Cukup




Rabu, Agustus 20, 2014

Its own way


Hidup itu dikemas oleh Tuhan dengan lucu dan menggelitik. Kamu tidak akan bisa menebak-nebak akan seperti apa dan bagaimana cerita hidupmu. Sepandai apapun kita berencana, Tuhan bisa mengatur skenario hanya dengan kata cut, kalau Tuhan itu diibaratkan sutradara. Walaupun terkadang kita akan susah menerima apa yang sudah di atur Tuhan pada awalnya. Tetapi aku masih percaya sampai sekarang, saat semua sudah terlewati kita akan melihat ke belakang dengan perut penuh dengan kelinci yang melompat-lompat kemudian tersenyum. 

Tentang hidup..... selama manusia hidup akan melewati rasa-rasa yang mereka sebut dengan perasaan yang tak bisa diutarakan dengan kata-kata. Rasa itu bisa muncul satu kali, dua kali, sepuluh kali atau setiap dia merayakan hari jadi umurnya. Rasa itu membuat sosok seseorang begitu melekat di hati dan pikiran. Rasa yang membuat seakan rasa itu bisa menjadi selamanya. Akupun. Pernah merasakan berbagi sinyal kegilaan. Menjadi sangat anak kecil tapi bisa menangis selayaknya manusia yang tidak mampu menopang hidup sendirian. Akupun sama saja. Berpikir aku sudah paham rasaku. Tetapi tidak juga. Ternyata aku mengolah rasa dengan begitu naif dan egois. Setelah masa itu terlewati, aku menoleh kebelakang dan menertawakan diri sendiri. Bagaimana aku bisa begitu yakin atas apa yang tidak aku ketahui betul. Lantas? Kemana rasa itu? Hilang? Aku pikir tidak. Rasa itu ya tetap rasa.

Setelah bertahun-tahun terlewati kemudian percakapan tentang rindu itu muncul.  Lalu berusaha mengingat bertahun-tahun silam.. Haha lucu ya. Lucu sekali hidup ini mengalir. Setelah tahun yang di lewati dengan perasaan negatif satu sama lain kemudian tetap saling berbagi kasih sayang. Kasih sayang yang berbeda hawanya tapi sama murninya. Kasih sayang itu luas. Manusia saja yang suka mengkotak-kotakan rasa itu di rasa yang mana. Sehingga, ketika rasa itu berada di kotak yang dia tidak inginkan lantas dia mengtiadakan rasa itu. Hmmmm ada satu lagi yang aku rasakan sekarang.... aku mulai kurang percaya rasa yang meluap berlebihan. Karena kita tidak akan tahu bagaimana akhir rasa akan di bawa. Let's say "Love will find the way" atau mungkin lebih tepatnya its own way? Dan sekarang aku masih menebak-nebak kemana aliran ini akan terbawa....

Minggu, Agustus 17, 2014

Home sweet home


Ada hal yang di takdirkan walau bisa di rubah. Seperti di mana tanah airmu.

Entah bagaimana Tuhan membagi rumah setiap ciptaan-Nya. Apakah pembagian itu berdasarkan tingkat kesabaran, keserakahan, atau tingkat eksploitasi? Walaupun dugaan itu terdengar kasar, seakan rumah itu pun di takdirkan sesuai karakter penghuninya. Padahal rumah ya rumah tidak ada rumah yang baik dan buruk. Dulu, aku sering berandai andai "Gimana kalau aku jadi orang jepang? pasti aku nggak pernah telatan" atau "Enak ya jadi orang arab nggak usah baca terjemaah kitab". Tapi entah, sampai sekarang aku nggak mau tinggal di luar negeri. Aku naif? idealis? atau sok nasionalis? Sebenernya alasannya karena aku gak mahir berbahasa asing. (seriusan) Aku belajar bahasa jepang dari kelas 2 SMA gak mau belajar sama sekali. Bahkan aku nggak hafal hiragana sama kataka sampai ujian sekolah. Ya untung ada temen yang pengertian :"D. Bisa di bayangkan kalau aku nyasar ke negeri orang bertahun-tahun mungkin aku survive dengan bahasa isyarat -_-

Lagi pula aku cinta tanah airku sendiri. Walaupun banyak orang yang mengkritik habis-habisan. Banyak orang membandingkan Indonesia dengan Malaysia atau Jepang. Ya beda kemana mana lah. Itu sama kayak bandingin anakmu yang bapaknya keturunan Tegal, ibu keturunan Kediri sama anak tetangga yang bapaknya keturunan Belanda, ibunya keturunan Bali. Beda jauh! Dan kritiknya suka gak manusiawi, walaupun niatnya buat kemajuan bangsa. "Coba ya keretanya Indonesia itu kayak sinkansen Jepang" Misalnya ya kita ada satu lah sinkansen trus melaju di rel dibawah jembatan depan Royal. Bisa bayangin palangnya sama tukang becak yang suka mangkal deket pos nggak? Bisa bisa wassalam -_- 

Aku juga pernah kok menaruh harapan besar ke kereta komuter. Soalnya aku inget pertama kali waktu bisa beroperasi pintunya bisa buka nutup. Whoosssh... bagi orang Indonesia punya komuter kayak gitu aja sudah takjup. Tapi ternyata itu nggak bertahan lama sih. Sekarang pintu kebuka lebar dimana mana. Tapi..... justru aku merasakan Indonesia sekali. Orang-orang lebih suka duduk di dekat pintu karena pintunya terbuka dan menikmati udara dan pemandangannya. Menurutku inilah Indonesia. Dan kita tidak perlu memaksakan untuk menjadi orang lain. Padahal ketika menjadi diri sendiri kita bisa unik di banding yang lain. Aku pernah dengar  Sudjiwo Tedjo pernah mengisi forum, tentang Indonesia ini orang-orangnya berani mati. Buktinya naik sepeda motor suka nggak pakai helm udah gitu bonceng bertiga lagi. :)) Aku setuju. Terlepas dari melanggar hukum, Aku suka kegilaan yang ada di negera ini. Lebih tepatnya menikmati. Bahkan aku suka kagum dengan orang-orang yang bisa nggadol truck sama kereta. Ini yang aku nggak akan bisa lihat di negara maju seperti Singapore, Malaysia, atau Jepang. Aku membayangkan sejenak mungkin aku suka melihat keteraturan, tapi lama kelamaan aku pasti bosan. Hidup sekali, terlalu disayangkan untuk dibuat terlalu ingin sempurna. 

Ada yang lebih penting dari sekedar mengkritik. Menerima apa adanya dan memberi apa yang bisa kita adakan untuk tanah airmu. 



Minggu, Agustus 03, 2014

Menggantung


Satu hal yang tak bisa terjawab hingga saat ini, saat aku berumur 27 tahun. "Apakah agama itu boleh dipilih?"

**

Ketika aku berumur 6 tahun......
Saat itu guruku Bu Halimah satu-satunya guru yang berlogat melayu diantara guru-guru berlogat jawa bertanya "Agama kalian apa anak-anak?" sontak semua kawanku menjawab pertanyaan Bu Halimah tanpa jeda berpikir "Islam Bu Guru" Ya memang kami bersekolah di TK Sabilillah, sudah pasti semua murid menjawab seragam. 

Kemudian Bu Halimah melihat ke arahku dengan alis penuh tanya. Aku berani bertaruh dia melihat ke arahku hanya karena aku tidak menjawab pertanyaan, batinku. Dan..... aku menang taruhan dengan batinku, Bu Halimah mendatangiku dan bertanya  "Mengapa kau tak menjawab pertanyaan Bu Halimah? Kau sakit gigi?" Entah..... tiba-tiba muncul pertanyaan itu lagi dalam pikiranku. Lebih baik aku bertanya tidak yaaa, batinku. Mungkin ini saat yang tepat aku bertanya
"Bu Halimah, agama itu boleh dipilih?" 
"Hahahaha.. Sudah gila ya kau?" ucap Hussein. 
Teman-teman yang lainpun tertawa. Aku tidak mengerti kenapa teman-teman tertawa padahal aku tidak sedang bergurau. Lagipula aku ini murid paling tidak bereskpresif kata kepala sekolah. "Oke anak-anak sekarang silahkan ambil pewarna kalian, kita akan mewarnai mesjid" Bu Halimah memalingkan dari pandanganku tanpa memberi jawaban satu katapun.

Loh, apakah pertanyaanku tadi itu salah?

**

Senja itu aku membantu kakak perempuanku memilah daun pisang untuk kupat. Saat lebaran tiba kami sekelurga semalam suntuk akan sibuk di dapur, entah itu perempuan atau laki-laki, tidak boleh ada yang enak tidur-tiduran. Lagi pula malam itu malam takbiran. Di desa kami, ketika malam takbiran laki-laki dewasa akan pergi ke masjid sebagian untuk bertakbir dan yang lain mempersiapkan hari esok sambil ikut bertakbir dirumah. "Allahu Akbar... Allahu Akbar... Allahu Akbar", Ninik sedang memilah beras sambil bertakbir. Aku melihat wajah Ninik begitu senang. Aku pernah melihat muka Ninik seperti itu saat dia membagi-bagikan beras hasil panen pada tetangga. Kemudian aku mendatangi Ninik, ada sesuatu yang mendorongku mencari tahu sesuatu. "Nik?", aku tau tidak sopan menyela orang berbicara terlebih bertakbir.
"Ada apa cucu ninik ini?" 
"Nik, aku boleh bertanya sesuatu" 
"Apalah yang mau ditanyakan cucu ninik yang sekarang sudah berumur 14 tahun ini?" 
"Nik, mengapa kita Islam? kenapa Daud yang baru lahirpun juga islam?"
"Memangnya kau pikir Daud bisa memilih sendiri.. haha kau ini"
"Apakah agama itu boleh dipilih?"
"Allahu akbar... Allahu akbar... Allahu akbar.. Laa illaha illallahu wallahu akbar.... Allahu akbar walillahil hamd" Ninikpun melanjutkan takbirnya.

Mungkin sebaiknya aku tidak bertanya lagi. Atau aku putuskan untuk mencari jawaban itu sendiri. Aku tidak ingin pertanyaan itu membuat orang menganggapku Musyrik.

**

Hari ini aku merasa orang-orang terlalu berlebihan terhadapku. Aku tidak suka perayaan, apalagi diberi selamat atas sesuatu yang aku rasa itu tidak terlalu penting dalam hidupku. Termasuk bahwa aku sudah 17 tahun. Entah apa yang berbeda dari 17 tahun. Hanya karena aku punya Kartu Tanda Pengenal? Lantas?
"Mas, ini ada data yang belum lengkap"
"Oh ya mas. Sekalian mas yang nulis saja. Biar cepet"
"Anak muda sukanya yang ringkas ya? Haha.. Mas, agamanya apa?"
"Harus diisi mas?"
"Ya iyalah mas, masnya ini lucu"
Aku lucu? Hahhhh... aku ingin tertawa kecut rasanya.
"Saya belum yakin mas sama agama saya kalau gitu boleh ditulis? Kalau saya tiba-tiba mau ganti gimana? Ngurusnya pasti ribet mas"
"Lah agama yang sekarang dianut apa mas?"
"Ada sih"
Aku berbisik kepada petugas kelurahan. Petugas kelurahan itu tersenyum dan menulis dengan garis tegas. Tanpa kata, petugas tersebut hanya mengangkat tangan kanannya ke arah tempat foto.

Crekkk....

Aku tersenyum lebar. Sudahlah yang penting aku sudah menyelesaikan tugasku sebagai warna negara yang baik. Entah bagaimana tugasku sebagai manusia. Hanya aku dan................. siapa akan tahu?


**

(QS: Al-Baqarah: 256)

Selasa, Juli 01, 2014

Jeda


Sore itu aku sedang duduk beberapa jengkal di sampingmu. Sore pertama setelah berapa pekan kita tidak pernah lagi berbagi cerita. Sebenarnya ada banyak hal yang ingin aku ceritakan padamu, tentang hal-hal yang bisa kita pikirkan, rasakan, dan tertawakan bersama. Tetapi aku memilih untuk diam. Sesekali aku menoleh ke arahmu sambil menerka rasa rindu seperti apa yang aku rasakan. Seperti dulu, kau selalu terlihat sibuk di depan laptopmu. Tapi untuk kali ini, aku tau kau sangat serius ingin segera menggapai apa yang kau impikan sejak dulu. Sore itu menjadi sore yang lambat. Entah bagaimana detik berjalan sangat lama dalam diam kita masing-masing. Sejenak aku mengingat sore yang sama di tahun yang lalu, kita duduk seakan membuat sudut di sebuah tempat makan klasik di tengah kota. Tak ada bincang yang panjang atau tawa diantara kita, hanya diam dan tenggelam dalam pandangan tanpa terka. Ketika kita bosan dengan diam sesekali kita melihat atap... melihat meja.. ke jendela..Lalu tak sengaja aku melihat bapak-bapak di bangku pojok sedang menikmati secangkir kopi. 

"Kenapa orang itu minum kopi pake di tuangin di lepek dulu?"

"Ya itu namanya seni meminum kopi"

"Kenapa gitu?"

"Biasanya kalau diminum pakai lepek gitu kopi hitam. Cara menikmati kopi hitam paling enak memang dituangkan di lepek dulu supaya bisa menikmati seruput demi seruput. Kalau langsung diminum ya bukan minum kopi hitam tapi minum es teh"

"Iya sih ya"

"Setiap orang punya caranya sendiri menikmati apa yang dia senangi. Dan cara menikmati paling enak adalah menikmati sedikit demi sedikit"

.........

Sore semakin larut kita masih dalam diam kita masing-masing. Aku melihat alismu mulai turun...Tanda kau mulai resah melihat sesuatu yang kau pandangi sejak tadi. Akupun mulai bosan.. Aku melihat meja.. kolong meja...melihat langit-langit... kemudian atensiku tersedot oleh laki-laki dan perempuan yang duduk berhadap-hadapan jauh dari tempat duduk kita. Sebenarnya aku tidak yakin mereka sepasang kekasih. Aku mencoba menerjemahkan tatapan mata mereka. Tunggu........Mungkin mereka sedang jatuh cinta. Mereka terlihat begitu menikmati waktu mereka dengan saling memandang. Memang tanpa tawa, tapi ada rasa yang mereka utarakan tanpa kata.

Aku sekarang paham apa yang pernah kamu katakan. Bahwa setiap orang memiliki caranya sendiri menikmati apa yang dia senangi. Dan memang yang paling enak adalah menikmati sedikit demi sedikit. 


"Aku pulang duluan ya"

"Iya"


Seperti menikmati......... jeda. 



"Seindah apapun huruf yang terukir, dapatkah ia bermakna apabila tanpa jeda? 
Kasih sayang akan membawa dua orang saling berdekatan, 
tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu"
(Dewi Lestari)

Senin, Juni 23, 2014

Pentas Seni


Bersama para orang tua TK B

Yang satu pose meratapi nasip :)))) yang satu lagi mandangin apa ma di langit?? duh

Narsis sama bunda Attiyah dan bunda Ega :3

Farel ngapin rel? 

Tau gak ini zentra jadi apa? jadi BAK MANDI! hahahaha
 
aku bakal kangen banget sama anak satu ini :")

ega, farel, yafi, bagas


Good Luck, kids! 

Minggu, Juni 22, 2014

Satu Tahun


Setahun bersama mereka sangat menyenangkan. Dibalik keluhan-keluahan kecil tentang kebingungan aku, aku menikmati kebersamaan dengan mereka. Mengenal mereka adalah anugerah yang indah. Iya, Seperti lirik lagu sheila on 7 "Melihat tawamu mendengar senandungmu terlihat jelas dimataku warna-warni indahmu" Melihat mereka tertawa saja aku senang. Aku suka mengamati kekanak-kanakan mereka, kadang dari dekat, menyamar jadi wasit di permainan sepak bola atau sekedar penganggu mereka bermain. Kadang dari kejauhan sekedar menoleh ketika dipanggil dan mereka memamerkan apa yang dia dapat dari halaman sekolah. Cukup dengan seperti itu aku senang, melihat mereka tertawa walau tidak ikut tertawa. Aku juga senang sekali ketika bisa berbagi cerita. Selama aku bersama mereka, aku belajar cara mendidik anak paling murajab adalah mengajaknya bicara. Mereka lebih sering curhat dan aku mendengarkan. Ya walaupun apa yang mereka curhatkan tidak seberat masalah orang dewasa. Tapi bagi mereka terkadang bisa bersifat sensitif bagi mereka. Pernah suatu hari, salah satu dari mereka curhat kalau dia tidak suka kamarnya dirubah. Katanya "Aku tidak suka perubahan. Itu membuatku tidak nyaman". Dia berusaha mengatakan ke orangtuanya tetapi katanya terpaksa dirubah. Ya akhirnya pembicaraan kita berakhir pada "Ya ada hal yang mau tidak mau kita harus menerimanya". Memang pembicaraan ini terdengar berat untuk permasalahan yang sepele bagi kita. Tapi setidaknya mereka merasa orang dewasa bisa memahami perasaannya walaupun tidak memberi jalan keluar sesuai apa yang dia mau. Terkadang orang dewasa terburu menyimpulkan perkataan anak-anak. Pernah juga suatu hari, aku dan seorang anak duduk di ayunan dan berbincang. Dia bercerita tentang "Nanda loh suka Bagas, tapi Bagas gak suka Nanda. Aku itu sudah bilang Nanda tapi tetep Nanda suka deket-deket Bagas". Komentarku? Diam. Tidak semua cerita harus dikomentari tetapi terkadang hanya ingin didengarkan. Hal-hal seperti itu yang mungkin akan aku rindukan. Berbicara banyak hal dengan mereka :)

Hari ini adalah Pentas Seni. Selama 2 minggu kita berlatih bersama untuk menampilkan drama musikal. Mereka anak-anak yang hebat! Walaupun di Hari H yaaaa tetap namanya Pentas Seni anak-anak. Mereka terlalu semangat saat melihat banyak mic berkeliaran. Banyak suara lucu bahkan ketika mereka harusnya bernyanyi atau memainkan angklung, bahkan ketika mereka harus berakting tidur lalu diberi mig jadinya malah mainan mic :)) ya sudahlah anak-anak. Kerja keras kita terbayar dengan anak-anak bisa menampilkan drama musikal dengan senang hati. Ya paling penting mereka senang melakukannya. Tapi sebenarnya bukan itu tapi yang mau aku ceritakan. Tapi akhir sesi dari Pentas Seni yaitu bersalaman dengan orangtua. Kita berfoto bersama, bercerita, saling mendoakan satu sama lain ke depannya. Satu titik aku merasa memiliki. Dan aku senang merasa bahwa ternyata selama ini mereka sudah percaya dan senang menitipkan anaknya kepada kami. Kami banyak kekurangan, tetapi mereka jarang sekali mengkritik. Mereka adalah orangtua yang hebat dan memiliki anak hebat dengan semua kelebihan dan kekurangan mereka! Semoga mereka tidak lelah memberikan yang terbaik untuk anak mereka! Senang sekali bisa mengenal mereka :D