Berbeda dengan teman-teman saya yang bisa menceritakan dengan
detail obrolan dengan pak Ino, menceritakan betapa rindu gaya mengajarnya dikelas bahkan rindu bagaimana beliau menyapa. Saya tidak dapat menceritakan kenangan bersama beliau, ya karena memang saya tidak begitu mengenal beliau. Saya hanya pernah sekali diajar beliau, itupun kuliah umum. Dan saya tidak terlalu memperhatikan karena saya berada di pojok belakangan sendiri. Sebenarnya saya sempat beberapa kali mengobrol dengan beliau. Itupun obrolan biasa yang tidak sampai 10 menit, kemudian tak sampai direkam oleh ingatan.
Mungkin jika menganut pepatah, "tak kenal maka tak sayang". Saya tidak kenal, mungkin tidak sesayang mereka yang sangat kehilangan. Tetapi saya tau bahwa beliau orang yang hebat. Seperti kata mas Iman,
pak Ino adalah outlier yang berada di kurva kanan. Menyimpang tetapi layang di jadikan panutan.
Saya ingat obrolan saya dengan pak Rudi beberapa minggu yang lalu. Saya bertanya-tanya kapan Indonesia punya psikologi tersendiri. Maksudnya bukan teori dari barat. Karena selama saya kuliah 7 semester lebih banyak membahas teori dari tempat antah berantah yang bahkan saya belum pernah kesana. Lalu saya dan pak rudi berdiskusi tentang Psikologi Jawa.
"Ngomong'o pak Ino. Cek nggawe mata kuliah bebas Psikologi Jawa. De'e seneng banget ambek budaya Jawa. Masi'o de'e cino" (Bilang ke pak Ino. Biar dibuatkan mata kuliah bebas Psikologi Jawa. Dia senang sekali sama budaya Jawa. Walaupun dia cina) begitu ujar pak Rudi. Saya hanya bisa melebarkan mata dan berdecak kagum. "Orang ini keren" begitu komentar saya dalam hati.
Saya tidak menyesal tidak begitu mengenal pak Ino
. Banyak teman-teman atau adek angkatan saya yang menyayangkan belum pernah diajar oleh beliau. Tetapi menurut saya pribadi,
sebenarnya secara tidak langsung dan tanpa kita sadari, kita pernah merasakan diajar pak Ino. Bagi siapapun yang pernah diajar oleh
pak Sam, pak Bukik, mas Aryo, pak Fendy. Beliau-beliau adalah titisan pak Ino. Saya menyebut titisan karena ada pemikiran dan gaya mengajar yang hampir sama dengan pak Ino. Telat masuk membawakan jajan untuk satu kelas, mencontek langsung dapet nilai E, kuis yang rasanya lebih mencekam daripada UTS dan UAS, bagaimana nilai A itu percuma jika ternyata kita tidak tau dasar dari ilmu itu sendiri dan apapun itu. Iya, mereka memang murid pak Ino. Jadi wajar ketika murid mencontoh gurunya. Apalagi
guru yang memang mempunyai jiwa mendidik seperti beliau.
Terimakasih pak ino, telah menanamkan nilai kehidupan. Nilai akademik bukanlah segala-galanya. Yang lebih penting yaitu bagaimana menjadi bermakna.
Terimakasih telah menanamkan bibit. Semoga bibit itu terus tumbuh dan akhirnya menghasilkan tunas baru lagi yang tak kalah unggulnya. Tidak hanya berhenti sampai sini saja.