Selasa, Maret 10, 2015

Halo halo


Halo. Aku, Par sama Pupus mengisi waktu luang otak kita dengan nulis bertema lagi. Kali ini gak muluk-muluk sih permulaan 7 hari dulu. Secara random kita mikir 1 tema dan menulis sesuai pikiran kita masing-masing. Kita punya gaya menulis masing-masing dan masih belajar. Kalau ada yang mau ikutan boleh banget! :D Karena temanya spontan kadang baru kepikiran siang bahkan sore jadi bisa ikut tema hari pertama. Try it! It's gonna be fun! Kalau mau lihat blog yang lain silahkan buka http://sepotongkeju.blogspot.com dan http://prdnkprdnk.blogspot.com/


Hari 2: Alien


"Waaahhh planet itu indah sekali Xyon"
"Yang mana?"
"Itu yang berwarna biru"
"Oh itu? Itu Bumi"
"Bumi? Lucu ya namanya. Kenapa warnanya bisa biru ya?"
"Iya itu warna langit"
"Wah. Heiii lihat ada warna hijaunya"
"Sepertinya disana banyak pohon"
"Pohon? Pohon itu seperti apa?"
"Pohon itu tumbuhan yang rambutnya mirip rambut ayah"
Kemudian kami tertawa terbahak-bahak membayangkan rambut ayah yang sedang marah ketika tahu kami bermain setelah pulang sekolah.
"Kabarnya di Bumi itu ada makanan yang paling enak dan disukai semua anak-anak"
"Apa? Apa?"
"Namanya permen"
Tawapun memecah sampai keseluruh tubuhkku kaku. Kakak laki-lakiku Xyon memang pandai melucu.

**
"Kalian tidak berangkat sekolah?"
"Iyaaaaaaaaaa.. sebentar kami pakai kaos kaki dulu"
Ah Ibu selalu berteriak disaat kami sedang asyik-asyiknya bermain dengan imaginasi kami.

**
Hal yang paling menyebalkan di pagi hari adalah pakai kaos kaki. Selalu saja ada kaki yang tertinggal karena terlalu banyaknya. Seharusnya pencipta kaos kaki ini membuat kaos kaki yang bisa dipakai seperti baju atau kalau perlu tidak usah saja pakai kaos kaki saja ke sekolah. Aku pernah mewawancarai anak di kelas apakah mereka pernah melewatkan satu kaki saat pakai kaos kaki. Mereka menjawab pernah setidaknya sekali selama mereka sekolah. Atau seharusnya kaki kami ada dua saja agar tidak repot memakai kaos kaki.

Senin, Maret 09, 2015

Hari 1: Tas


"Kamu mau pilih warna apa?" tanyaku dengan sambil menunjuk ke arah rak tas dengan sedikit membungkuk kepada anak dengan tinggi 130 cm. Namanya Dede, dia anakku satu-satunya nama lengkapnya Gedhe Atine. Mungkin nama yang aneh jika dibanding dengan Ahmad, Zaenal, Rosyidi, Dhoni, Priyo, Faisal, dan yang lain. Filosofi dari nama itu? Tidak ada. Hanya aku berdoa agar apapun yang terjadi dalam kehidupan anakku, dia selalu berbesar hati menerimanya.

"Merah sudah, Hitam sudah, Putih sudah" Dede berusaha mengingat warna-warna tas yang dia punya dan menghitungnya dengan jari. "Hmmm... Biru?" Dede menunjuk tas paling pojok berwarna biru dan bergambarkan gundam yang entah aku tidak tahu itu gundam seri apa. Harap maklum kami tinggal di pelosok desa. Kami saja menonton tv masih menumpang di rumah Mbak Marni, tetangga sebelah yang suka menonton acara dangdut hampirsepanjang hari.

"Mbak, Tas warna biru di pojok itu yang sebelahnya tas pink ya mbak, satu" aku berusah menunjuk tas yang diinginkan Dede. Tas warna biru banyak sekali dan tidak tertata dengan rapi.

Besok adalah tahun ajaran baru. Setiap tahun ajaran baru aku dan Dede akan pergi ke kota untuk membeli tas. Bagiku kota adalah tempat dimana kita bisa membeli tas dengan berbeda warna di setiap tahunnya. Ada sih yang menjual tas di desa tempat kita tinggal, tapi kalau tidak warna hitam ya warna hitam yang bercampur putih atau abu-abu. Aku tidak mungkin memilihkan Dede tas berwarna pink hanya agar tasnya terlihat baru di tahun ajaran baru.

Tas bagiku dan Dede sangat penting melebihi buku baru. Karena aku tahu Tas baru akan membuat Dede bersemangat belajar. Meski......

**

Hari ini adalah hari yang aku dan Dede tunggu sejak lama. Tahun ajaran baru! Aku tidak sabar melihat Dede masuk ke kelasnya dengan tas baru miliknya. Pagi ini aku menyiapkan sarapan istimewa untuk hari yang istimewa. Roti dengan selai cokelat dan susu putih. Tampak seperti orang tua dan anak kekinian bukan? Tidak apalah besok kita makan nasi jagung asal hari istimewa ini terasa benar-benar istimewa. Setidaknya aku berusaha keras membuat hari ini terasa istimewa bagi Dede.Aku sudah menyiapkan seragamnya yang tampak baru setelah aku cuci berkali-kali dengan detergen yang kata Mbak Ro seperti dicuci oleh 10 tangan. Sepatu Dede sudah kusemir hitam tak lupa tas baru dan buku-buku sisa ajaran tahun lalu yang tentu akan berguna bagi Dede di ajaran baru ini.

"Ibu, aku sudah siap. Bagaimana?" tanya Dede sambil memutar badan tiga kali dengan cepat.
"Ganteng sekali anak ibu dengan tas barunya?" ujarku berusaha memujinya.
"Ibu, aku masuk di kelas baru kan bu? Aku akan sekelas dengan Tono, Utari dan Haryo kan Bu?" Dede tampak cemas. Tampaknya kali ini dia lebih takut dari semester sebelumnya karena dia sudah menemukan teman-teman yang menerima dia apa adanya.
"Kita lihat ya nanti. Yang penting kan tasmu baru kan?"

Senin, Oktober 27, 2014

#Mata


Tidakkah kini semua orang terlihat sama. Belahan rambut yang sama. Gincu merah dengan ketebalan yang sama. Cara tertawa dan berjalan yang sama. Entah, aku mulai susah menemukan sosok yang berbeda. Ditengah keramaian pusat perbelanjaan tak jarang aku merasa di kawasan hewan dengan ciri yang sama. Barangkali terdengar kasar ya? Karena menurutku mereka tampak sejenis. Ada sekumpulan gadis dengan rok merekah diatas lutut, baju kerah dimasukkan dan rambut hitam panjang terurai membelah kulit wajah tanpa cela. Seperti ukiran para pemahat sekelas Michelangelo. Benar-benar tanpa cela. Mereka duduk dengan gaya yang sama, tersenyum kepala dimiringkan 25 derajat ke kiri lalu ke kanan, bibir ditarik sedikit disebelah kiri membetulkan rambut lalu menekan tombol lingkaran yang ada di benda yang lebih mirip telenan apalah itu. Begitu berjam-jam tak bosan dan diulang-ulang. Tak jauh beda kaum adampun begitu. Berdiri dengan kaki dibuka seperti pasang kuda-kuda, tangan dimasukkan salah satu kantong dan busungkan dada. Seakan mereka pegang kuasa. Berbicara sana sini, semua tentang aku dan milikku. 

"Kamu lihat wanita itu, menurutmu dia cantik?"
"Iya, cantiklah. Sudah putih, hidungnya mancung, badannya wuihh.. yahud. Eh tapi cantikan sebelahnya imut-imut gimana gitu. Lah menurutmu nto, mana dari mereka yang lebih cantik?"
"Gak ada"
"Wih, matamu sewer po? Uayu uayu ngono. Ojok-ojok'o kowe seneng lanang yo?"
"Mereka itu cuma sedap dipandang saja wan. Selebihnya aku tidak tertarik"

Ada hal yang mampu kita lihat dengan mata, tetapi juga ada hal yang tidak mampu tertembus oleh mata. Jangan-jangan selama ini kita terlalu terperdaya oleh mata. Entah........


Minggu, September 21, 2014

Berubah


Aku masih berumur 23 tahun. Tetapi ternyata perubahan besar terjadi di sekelilingku dalam periode waktu yang singkat. Kalau dikategorikan dari tahun lahir, aku ini anak 90an. Anak-anak yang dulu merasa pakai celana monyet itu keren! Anak-anak yang dulu semangat banget dateng ke konser susan dan kak ria enes (eh, apa aku tok ya yang gitu?).. eh! tapi serius aku dulu belain desek-desekan biar dapet tanda tangannya susan (padahal kalau dipikir-pikir ya itu pasti tanda-tangannya kak ria -_-). Anak-anak yang dulu sempet nangis waktu sherina nolongin sadam di boscha. Anak-anak yang dulu main petak umpet aja dari sore sampek malem. Anak-anak yang hobi niruin tarian Amigos dan marah-marah kalau anna dikerjain neville. Waktu dulu hidupku saat itu sekolah-main-nonton amigos-bolos les buat nonton amigos. Waktu SMP kelas 1 dan 2 nggak jauh beda, hidupku nggak jauh-jauh dari sekolah-ikut ekstra kulikuler melukis-main the sims bareng anak-anak dirumah icha-main ayunan sebelah rumah icha-ngobrol di mesjid deket rumah icha-les bahasa inggris. Sampai suatu saat di kehidupan akhir SMP dan waktu SMA, mengenal friendster dan kemudian facebook, mxit, mig33 lah. Ada hal yang baru muncul di sekelilingku tapi tidak begitu besar. Kami sekelas hobi foto-foto.... ya pakai sapulah, ya foto di kaca deket ruang kepala sekolah lah, ya di lapangan basketlah kemudian uploud di facebook. Karena itu hal yang baru, kegiatan itu menjadi kegiatan yang seru bagi kami. Bahkan facebook, benar-benar menambah jejaring pertemanan bagiku. Tidak hanya berteman di dalam dunia maya, aku membuka kesempatan untuk benar-benar berteman di dunia nyata. Akupun masih berteman dekat dengan mereka sampai sekarang. Bahkan beberapa adalah teman baik. Saat kuliah, banyak istilah-istilah asing yang muncul. Twitter - plurk - GooglePlus- Instagram - Line - KakaoTalk - Whatsaap - Path - dan aku nggak update-update banget. Sosial network yang awalnya fungsinya untuk menambah jejaring sosial sekarang menjadi multifungsi. Berkembangnya sosial network pun diirngi dengan trend smart phone. Yang dulu kita foto lalu baru akan di uploud keesokan harinya, sekarang semua menjadi serba hitungan detik. Bagiku, ini merupakan perubahan yang besar di sekelilingku. Datang ke suatu tempat ber5 - pegang hape mau check in - pesen makan - ngobrol - makanan datang - semua foto makanan uploud - makan - ngecek hape - ngobrol - foto bareng-bareng di tempat makan- uploud - pulang. Kalau kataku ini era everybody should know. Semua harus tahu aku itu ada. Aku punya teman baik A, B, C,D. Kami bahagia. Aku punya pacar. Kita mesra. Padahal nggak tahu aslinya gimana. Aku tidak pernah menyalahkan bahwa itu salah. Tren itu muncul karena kebanyakan orang mengikuti, kita punya hak mau mengikuti atau tidak. Pun kalau mengikuti, ya itu hak. Tapi sayang banget hidup penuh dengan kamuflase. Ya itu cuma kataku sih. Untuk apa uploud foto bersama dengan caption I'm happy. Love you - kemudian di tempat tidur sedih merasa sendiri bahkan tidak merasa kehangatan hubungan. Tidakkah yang lebih menyenangkan menghabiskan waktu mengobrol sampai ngakak ngakak  trus nangis dengan orang-orang terdekat? Meninggalkan sementara gadget untuk ikut menonton acara bersama keluarga. Makan bersama tanpa harus merusak momen-momen tersebut. Tidakkah kita rindu bermain bersama seperti tahun 90an tertawa, dan gembira tanpa perasaan semua orang harus tahu bahwa kita bahagia. Ya penting kita merasa bahagia. Cukup




Rabu, Agustus 20, 2014

Its own way


Hidup itu dikemas oleh Tuhan dengan lucu dan menggelitik. Kamu tidak akan bisa menebak-nebak akan seperti apa dan bagaimana cerita hidupmu. Sepandai apapun kita berencana, Tuhan bisa mengatur skenario hanya dengan kata cut, kalau Tuhan itu diibaratkan sutradara. Walaupun terkadang kita akan susah menerima apa yang sudah di atur Tuhan pada awalnya. Tetapi aku masih percaya sampai sekarang, saat semua sudah terlewati kita akan melihat ke belakang dengan perut penuh dengan kelinci yang melompat-lompat kemudian tersenyum. 

Tentang hidup..... selama manusia hidup akan melewati rasa-rasa yang mereka sebut dengan perasaan yang tak bisa diutarakan dengan kata-kata. Rasa itu bisa muncul satu kali, dua kali, sepuluh kali atau setiap dia merayakan hari jadi umurnya. Rasa itu membuat sosok seseorang begitu melekat di hati dan pikiran. Rasa yang membuat seakan rasa itu bisa menjadi selamanya. Akupun. Pernah merasakan berbagi sinyal kegilaan. Menjadi sangat anak kecil tapi bisa menangis selayaknya manusia yang tidak mampu menopang hidup sendirian. Akupun sama saja. Berpikir aku sudah paham rasaku. Tetapi tidak juga. Ternyata aku mengolah rasa dengan begitu naif dan egois. Setelah masa itu terlewati, aku menoleh kebelakang dan menertawakan diri sendiri. Bagaimana aku bisa begitu yakin atas apa yang tidak aku ketahui betul. Lantas? Kemana rasa itu? Hilang? Aku pikir tidak. Rasa itu ya tetap rasa.

Setelah bertahun-tahun terlewati kemudian percakapan tentang rindu itu muncul.  Lalu berusaha mengingat bertahun-tahun silam.. Haha lucu ya. Lucu sekali hidup ini mengalir. Setelah tahun yang di lewati dengan perasaan negatif satu sama lain kemudian tetap saling berbagi kasih sayang. Kasih sayang yang berbeda hawanya tapi sama murninya. Kasih sayang itu luas. Manusia saja yang suka mengkotak-kotakan rasa itu di rasa yang mana. Sehingga, ketika rasa itu berada di kotak yang dia tidak inginkan lantas dia mengtiadakan rasa itu. Hmmmm ada satu lagi yang aku rasakan sekarang.... aku mulai kurang percaya rasa yang meluap berlebihan. Karena kita tidak akan tahu bagaimana akhir rasa akan di bawa. Let's say "Love will find the way" atau mungkin lebih tepatnya its own way? Dan sekarang aku masih menebak-nebak kemana aliran ini akan terbawa....

Minggu, Agustus 17, 2014

Home sweet home


Ada hal yang di takdirkan walau bisa di rubah. Seperti di mana tanah airmu.

Entah bagaimana Tuhan membagi rumah setiap ciptaan-Nya. Apakah pembagian itu berdasarkan tingkat kesabaran, keserakahan, atau tingkat eksploitasi? Walaupun dugaan itu terdengar kasar, seakan rumah itu pun di takdirkan sesuai karakter penghuninya. Padahal rumah ya rumah tidak ada rumah yang baik dan buruk. Dulu, aku sering berandai andai "Gimana kalau aku jadi orang jepang? pasti aku nggak pernah telatan" atau "Enak ya jadi orang arab nggak usah baca terjemaah kitab". Tapi entah, sampai sekarang aku nggak mau tinggal di luar negeri. Aku naif? idealis? atau sok nasionalis? Sebenernya alasannya karena aku gak mahir berbahasa asing. (seriusan) Aku belajar bahasa jepang dari kelas 2 SMA gak mau belajar sama sekali. Bahkan aku nggak hafal hiragana sama kataka sampai ujian sekolah. Ya untung ada temen yang pengertian :"D. Bisa di bayangkan kalau aku nyasar ke negeri orang bertahun-tahun mungkin aku survive dengan bahasa isyarat -_-

Lagi pula aku cinta tanah airku sendiri. Walaupun banyak orang yang mengkritik habis-habisan. Banyak orang membandingkan Indonesia dengan Malaysia atau Jepang. Ya beda kemana mana lah. Itu sama kayak bandingin anakmu yang bapaknya keturunan Tegal, ibu keturunan Kediri sama anak tetangga yang bapaknya keturunan Belanda, ibunya keturunan Bali. Beda jauh! Dan kritiknya suka gak manusiawi, walaupun niatnya buat kemajuan bangsa. "Coba ya keretanya Indonesia itu kayak sinkansen Jepang" Misalnya ya kita ada satu lah sinkansen trus melaju di rel dibawah jembatan depan Royal. Bisa bayangin palangnya sama tukang becak yang suka mangkal deket pos nggak? Bisa bisa wassalam -_- 

Aku juga pernah kok menaruh harapan besar ke kereta komuter. Soalnya aku inget pertama kali waktu bisa beroperasi pintunya bisa buka nutup. Whoosssh... bagi orang Indonesia punya komuter kayak gitu aja sudah takjup. Tapi ternyata itu nggak bertahan lama sih. Sekarang pintu kebuka lebar dimana mana. Tapi..... justru aku merasakan Indonesia sekali. Orang-orang lebih suka duduk di dekat pintu karena pintunya terbuka dan menikmati udara dan pemandangannya. Menurutku inilah Indonesia. Dan kita tidak perlu memaksakan untuk menjadi orang lain. Padahal ketika menjadi diri sendiri kita bisa unik di banding yang lain. Aku pernah dengar  Sudjiwo Tedjo pernah mengisi forum, tentang Indonesia ini orang-orangnya berani mati. Buktinya naik sepeda motor suka nggak pakai helm udah gitu bonceng bertiga lagi. :)) Aku setuju. Terlepas dari melanggar hukum, Aku suka kegilaan yang ada di negera ini. Lebih tepatnya menikmati. Bahkan aku suka kagum dengan orang-orang yang bisa nggadol truck sama kereta. Ini yang aku nggak akan bisa lihat di negara maju seperti Singapore, Malaysia, atau Jepang. Aku membayangkan sejenak mungkin aku suka melihat keteraturan, tapi lama kelamaan aku pasti bosan. Hidup sekali, terlalu disayangkan untuk dibuat terlalu ingin sempurna. 

Ada yang lebih penting dari sekedar mengkritik. Menerima apa adanya dan memberi apa yang bisa kita adakan untuk tanah airmu.